Oleh: Dwi Arianto, S.Sy., S.Pd.
(Guru Muhammadiyah)
Lembaga pendidikan tidak hanya memberikan pengetahuan barau kepada peserta didik dengan dasar tanggung jawab. Namun sebagai laku pendidik di suatu instasi atau lembaga tidak hanya melaksanakan kewajiban saja, tapi yang paling terpenting adalah memperhatikan integritas dan loyalitas. Kalau ingin seperti adanya tidak perlu ada di lembaga pendidikan, namun lebih baik duduk saja diam di rumah tanpa beban apapun. Seperti yang sudah-sudah, kewajiban pendidik di Muhammadiyah bukan hanya pendidik di Muhammadiyah, namun lain dari pada itu harus menjadi pendidik Muhammadiyah. Menjadi pendidik Muhammadiyah juga harus memahami konsep pendidikan Muhammadiyah. Jelas, jika laku diri ini sebagai pendidik, moralitas dan identitas sebagai pendidik Muhammadiyah yang berlandaskan Al-Qur’an dan Hadis benar-benar terwujud apa adanya. Konsep itu bisa difahami dengan mendasarkan ideologi, Muqodimah dan MKCHM sebagai dasar mendidik para kader. Sehingga pendidik Muhammadiyah dapat menyampaikan dengan baik materi kepada peserta didik.
Pendidikan semacam ini telah terwujud dengan disiplin yang kuat dan di dasari loyalitas dalam hati di MTs Muhammadiyah Sukarame. Tidakk hanya bukan duduk merenung membawa pikiran rumah untuk mendidik, alhasil pendidikan pengetahuan menjadi pendidikan rumah tangga, tidak lucu untuk didengar. Islam dengan segala rumus peraturan dan syariatnya telah membahas dan mengkonsepkan sedemikian mungkin untuk mengarahkan peserta didik dalam mendalami Ilmu. Bahkan tidak main-main, Allah swt menjanjikan kepada setiap orang yang beriman dan berilmu akan mengangkat beberapa derajat, baik di dunia dan di akhirat. Yang mencari ilmu saja Allah angkat deratnya, lalu bagaimana dengan pendidik yang selalu memberikan dan memahamkan ilmu itu?. Maka kata Allah swt, ini akan menjadi amal jariyah, yaitu suatu amal yang tidak akan terputus. Pertanyaannya msih malu menjadi pedidik di Muhammadiyah bahkan masih malu menjadi pendidik Muhammadiyah?. Jika iya, maka perlu disimak dalil-dalil berikut:
1. Allah swt Angkat Derajatnya
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَكُمۡ تَفَسَّحُواْ فِي ٱلۡمَجَٰلِسِ فَٱفۡسَحُواْ يَفۡسَحِ ٱللَّهُ لَكُمۡۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُواْ فَٱنشُزُواْ يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ
Artinya: “Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS. Al-Mujadalah ayat 11).
Dalam Tafsir As-Sa’di jelaskan secara jelas, Ini adalah ajaran dari allah untuk para hambaNya yang beriman ketika mereka berada dalam majelis perkumpulan, yang sebagian dari mereka ada orang yang baru datang meminta agar tempat duduk diperluas. Termasuk bersopan santun dalam hal ini adalah dengan memberikan kelonggaran tempat baginya agar maksudnya bisa terpenuhi, bukan untuk mengganggu orang yang memberi kelonggaran tempat tersebut. Maksud saudaranya pun terpenuhi tanpa harus terganggu. Balasan itu berdasarkan jenis amal. Siapa pun yang memberi kelonggaran, maka akan diberi kelonggaran oleh Allah, siapa pun yang memberi keleluasaan pada saudaranya, maka Allah akan memberinya keleluasaan.
“Dan apabila dikatakan, ‘Berdirilah kamu’,” artinya berdirilah dari tempat duduk kalian, karena adanya suatu keperluan mendesak, “maka berdirilah,” maksudnya segeralah berdiri agar kemaslahatan tercapai, karena melaksanakan hal seperti ini termasuk bagian dari ilmu dan iman.
Allah akan mengangkat derajat orang yang berilmu dan beriman berdasarkan ilmu dan keimanan yang Allah berikan pada mereka. “Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Masing-masing diberi balasan berdasarkan amalnya. Perbuatan baik akan dibalas baik dan perbuatan buruk akan dibalas buruk.
Di dalam ayat ini terdapat penjelasan tentang keutamaan ilmu. Dan keindahan serta buah dari ilmu adalah dengan beradab dengan adab-adab ilmu serta menunaikan tuntutannya.
2. Ilmu akan Menjadi Amal Jariyah
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Artinya: “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau doa anak yang sholeh.” (HR Muslim).
3. Menjaga Diri
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
Artinya: “Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan diantara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah ayat 122).
Dalam Tafsir al-Wajiz dijelas bahwa, Selayaknya orang-orang mukmin tidak pergi untuk berperang semuanya (Dikatakan bahwa agar pergi mencari ilmu) dan meninggalkan Madinah dalam keadaan kosong, namun pergi dalam kelompok-kelompok dari masing-masing kafilah. Dan sisa kelompok lainnya tinggal (di Madinah) untuk belajar agama dan ilmu syariat, serta mengingatkan kaumnya ketika mereka kembali kepadanya agar diajari ilmu yang sudah mereka pelajari berupa hukum halal haram supaya mereka mewaspadai hukuman Allah dengan mengerjakan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Ayat ini turun ketika orang mukmin sangat ingin berjihad saat rasulullah SAW mengutus satu pasukan, lalu mereka pergi dan meninggalkan Nabi SAW di Madinah bersama sedikit orang.
4. Mendapatkan Kebaikan
Hadits dari Sahl bin Sa’id ra yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim
فَوَاللَّهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ
Artinya: “Demi Allah, jika Allah SWT memberi petunjuk kepada satu orang melalui perantaramu maka hal itu jauh lebih baik dari pada kekayaan yang sangat berharga.”
Dalam Hadist tersebut dijelaskan bahwa seorang pendidik derajatnya lebih baik dari pada harta kekayaan yang malimpah. Tentunya hal ini semakin menegaskan bahwa kedudukan seorang pendidik memiliki posisi yang amat penting. Bukan hanya perkara mengenai ilmu yang diberikan. Namun, seorang pendidik juga memberinpesan pengajaran yang nilainya bahkan lebih baik dari harta kekayaan yang berlimpah. Sebab ilmu yang diberikan tersebut merupakan sebuah petunjuk yang akan digunakan sebagai pedoman dalam meraih dan menempuh kebaikan selama hidup di dunia.
Oleh karena itu menjadilah pendidik yang benar-benar mendidik dengan tujuan ilmu. Pendidik akan mendapatkan begitu banyak kemuliaan karena telah mengajarkan peserta didik yang sebelumnya tidak mengetahui menjadi tahu. Konsep inilah yang menjadi dasar janji Allah swt kepada orang-orang yang berilmu. Maka sebagai pendidik Muhammadiyah, jadilah pendidik yang ikhlas untuk memberikan ilmunya dan jadilah pendidik yang mendasarkan di dalam hatinya Al-Qur’an dan Hadis. Sehingga lembaga kita Allah swt berkahi dan kita diangkat derajatnya oleh Allah swt.